Makalah : Museum Sangiran di Sragen

Saturday, March 16, 2013



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Pengertian museum. Museum berasal dari kata Latin “mouseion”, yaitu kuil untuk Sembilan Dewi Muses, anak Dewa Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur. Jadi museum merujuk pada perbuatan atau sesuatu yang membuat orang lain gembira. Museum digunakan untuk menyebut lembaga yang menyimpan dan memelihara koleksi benda-benda seni atau benda bernilai sejarah dan ilmu pengetahuan. Koleksi museum ditampilkan untuk pembelajaran dan kesenangan masyarakat. Museum adalah tempat yang paling ideal sebagai wadah kegiatan “edutainment” (education = pendidikan sekaligus entertainment = hiburan). Seorang ahli museologi George dan Sherrell-Leo (1989), menyatakan bahwa museum yang baik seharusnya dapat menjadi pintu gerbang bagi umat manusia untuk memasuki dunia luar kita, museum juga harus dapat menarik, menghibur dan merangsang keingintahuan dan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong proses pembelajaran. Museum harus mampu mampu membangkitkan minat orang tua maupun muda untuk mengkaji dunia di luar mereka. Sedangkan museum menurut International Council of Museum (ICOM, 2006), museum adalah lembaga permanen yang tidak untuk mencari keuntungan (not for profit), diabadikan untuk kepentingan dan pembangunan masyarakat, serta terbuka untuk umum.
Museum mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, memamerkan bukti-bukti bendawi manusia dan lingkungannya untuk tujuan pengkajian, pendidikan, dan kesenangan. Untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap museum, para pengelola meseum harus kembali atau menyegarkan pikirannya untuk merevitalisasikan visi, misi, dan tugas-tugas museum. Sifat museum yang menyajikan pengetahuan dan keterampilan dalam suasana yang menyenangkan, dengan demikian museum akan dapat menjadi mitra para pendidik, baik itu orang tua sebagai pendidik di lingkungan keluarga, para guru dan pengajar di sekolah dan perguruan tinggi, maupun pendidik di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Pertanyaan yang muncul terkait masalah ini adalah bagaimana kita dapat membuat meseum  berperan sebagai mitra pendidik? Dalam makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Secara garis besar diperlukan beberapa konsep yang dapat diterapkan yang dapat diterapkan di museum, tentunya yang berkaitan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Untuk itu dalam makalah ini akan sedikit membahas mengenai penataan museum sebagai mitra pendidik dengan Empat Tiang Pendidikan Abad ke-21. Keempat pilar pendidikan itu adalah belajar untuk tahu, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi dan belajar untuk hidup bersama. Selain berisi mengenai museum sebagai mitra pendidik yang diulas di dalam bab II, makalah ini juga sedikit memaparkan tentang koleksi museum sebagai sumber Pendidikan Hubungan Antarbangsa yang dipaparkan dalam bab III. Hubungan Antarbangsa menjadi salah satu kajian studi hubungan internasional. Ilmu hubungan internasional adalah subjek akademis yang memperhatikan hubungan yang mencakup segala unsur antarbangsa. Dengan mempelajari koleksi yang disajikan oleh museum kita dapat mengetahui hubunga antarbangsa baik dengan penelitian atau riset mengenai hubungan Antarbangsa.

B.   Pembatasan Masalah
1.      Sekilas             : Suatu hasil pandangan seseorang.
2.      Museum          : Tempat untuk menyimpan dan memelihara koleksi benda-benda
  seni atau benda bernilai sejarah dan ilmu pengetahuan.
3.      Sangiran          : Tempat ditemukannya benda-benda sejarah / purbakala yang
                          terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten
                          Sragen.
Dengan penjelasan yang telah tersebut diatas maka jelaslah bahwa yang dimaksud “SEKILAS TENTANG MUSEUM SANGIRAN” adalah suatu pendangan seseorang tentang Museum yang terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

C.   Alasan Pemilihan Judul
Penyusun dalam menyusun karya tulis ini mempunyai alasan sebagai berikut :
1.      Penyusun ingin mengadakan penelitian tentang segala sesuatu di Museum Sangiran.
2.      Mengingat akan pentingnya ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan pendidikan.
3.      Belum adanya karya tulis di MAN Wonokromo yang menyusun dengan judul tersebut.
4.      Di Museum Sangiran banyak sekali koleksi-koleksi yang dapat diketahui.

D.   Tujuan Penyusunan
1.      Untuk melengkapi Tugas Akhir dan memenuhi syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Nasional (UNAS) dan MAN Wonokromo tahun 2009/2010.
2.      Untuk memperluas cakrawala pengetahuan.
3.      Untuk melatih mengumpulkan, mengelola, dan menganalisis data.
4.      Untuk melatih kedisiplinan dan tanggung jawab.
5.      Untuk mengetahui tentang keadaan dan koleksi Museum Sangiran.
6.      Untuk menambah pengalaman dan mempererat persaudaraan.

E.   Metode Penelitian
Dalam menyusun karya tulis ini, kami menggunakan berbagai metode, antara lain :
1.      Metode Interview
Yaitu metode mengumpulkan data dengan sistem wawancara, sehingga kami dapat memperoleh data-data yang kami perlukan.
2.      Metode Observasi
Yaitu cara untuk memperoleh data-data dengan melihat dan mendengar secara langsung tentang objek / lokasi guna mendapatkan data yang diperlukan.
3.      Metode Kepustakaan
Yaitu metode literatur yang ada di Madrasah maupun buku-buku lain yang masih berhubungan dengan pokok kajian kami, untuk menambah dan melengkapi data yang telah kami kumpulkan.
F.    Sistematika Pembahasan
Dalam karya tulis ini, agar uraiannya menjadi runtut dan mudah dipahami, maka penyusun menguraikan sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I. Diuraikan tentang pendahuluan yang berisi :
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Pembatasan Masalah
C.     Alasan Pemilihan Judul
D.    Tujuan Penyusunan
E.     Metode Penelitian
F.      Sistematika Pembahasan
BAB II. Diuraikan tentang persiapan pelaksanaan penelitian yang berisi :
A.    Persiapan Sebelum Meneliti
B.     Persiapan Pelaksanaan
C.     Penulisan
BAB III. Pembahasan yang berisi :
A.    Museum Sangiran
B.     Koleksi Museum Sangiran
C.     Menara Pandang
D.    Museum Sebagai Mitra Pendidik
E.     Koleksi Museum Sebagai Sumber Pendidikan Hubungan Antarbangsa
BAB IV. Diuraikan tentang penutup yang berisi :
A.    Kesimpulan
B.     Penutup














BAB II
PERSIAPAN PELAKSANAAN PENELITIAN

A.   Persiapan Sebelum Meneliti
Sebelum kami melakukan penelitian, kami telah mempersiapkan hal-hal sebagai berikut :
1.      Malakukan Pembahasan
Untuk mempermudah dalam membuat karya tulis, kami melakukan pembahasan tentang bagaimana supaya karya tulis ini dapat disusun dengan sebaik-baiknya, dengan :
a.       Mempersiapkan daftar pertanyaan untuk mengumpulkan data di lapangan.
b.      Membagi tugas untuk mengumpulkan data.
2.      Administrasi
Dalam rangka pembiayaan karya tulis ini kami telah melaksanakan pengumpulan biaya sebagai sarana demi terciptanya karya tulis ini sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal.
3.      Pengarahan dari Pembimbing
Untuk melaksanakan penelitian kami telah mandapatkan pengarahan dan petunjuk dari pembimbing, supaya kami dapat dengan mudah mengadakan penelitian yang akan kami laksanakan.

B.   Pelaksanaan Penelitian
1.      Melakukan study tour ke Sragen
2.      Melakukan riset lapangan

C.   Penulisan
1.      Mengumpulkan dan mendiskusikan data-data yang telah diperoleh.
2.      Melengkapi data-data yang kurang dari berbagai sumber seperti :
a.       Buku-buku literatur
b.      Media lain, leaflets dan internet
3.      Proses penulisan dan editing
4.      Pencetakan
BAB III
PEMBAHASAN

A.   Museum Sangiran

Sragen merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Dengan demikian, Kabupaten Sragen adalah pintu gerbang memasuki Jawa Tengah dari arah timur. Kabupaten Sragen juga sering disebut sebagai “Tlatah Sukowati” yang mempunyai wilayah seluas 941,55 km2, dengan topografi sebagai berikut : di tengah-tengah wilayah mengalir sungai Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa; daerah sebelah selatan merupakan bagian dari lereng Gunung Lawu; sebelah utara merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng; dan sebelah barat merupakan kawasan yang sangat terkenal dengan sebutan “Kubah Sangiran”.
Terletak di desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe (± 40 km dari Sragen atau ± 17 km dari Solo) Sangiran Dome menyimpan puluhan ribu fosil dari Jaan Pleistocen (± 2 juta tahun lalu). Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50 % di seluruh dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan.
Sebagai World Heritage List (Warisan Budaya Dunia), Museum ini memiliki fasilitas diantaranya : ruang fosil Sangiran pameran (fosil manusia, binatang purba), laboratorium, gudang fosil, ruang slide dan kios-kios souvenir khas Sangiran.
Keistimewaan Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi dulu pada masa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses geologi dan akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran menjadi daratan. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan zamannya. Misalnya, fosil binatang laut banyak ditemukan di lapisan tanaha paling bawah, yang dulu merupakan lautan.

Dome Sangiran

“Dome Sangiran” atau kawasan Sangiran yang memiliki luas wilayah sepanjang bentangan dari utara – selatan sepanjang 9 km. Barat – timur sepanjang 7 km. Masuk dalam empat kecamatan atau sekitar 59,3 km2. Temuan fosil di “Dome Sangiran” di kumpulkan dan disimpan di Museum Sangiran. Temuan fosil di Sangiran untuk jenis Hominid Purba (diduga sebagai asal evolusi Manusia) ada 50 (lima puluh) Jenis / Individu. Untuk fosil-fosil yang ditemukan di Kawasan Sangiran merupakan 50 % dari temuan fosil di Dunia dan merupakan 65 % dari temuan di Indonesia. Oleh karenanya dalam sidangnya yang ke-20 Komisi Warisan Budaya Dunia di Kota Marida, Mexico tanggal 5 Desember 1996, Sangiran ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia “World Heritage List” Nomor : 593.


B.     Koleksi Museum Sangiran
1.      Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus, Pithecanthropus mojokertensis (Pithecanthropus robustus), Meganthropus palaeojavanicus, Pithecanthropus erectus, Homo soloensis, Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens.
2.      Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinoceros sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).
3.      Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera.
4.      Batu-batu, antara lain Meteorit / Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis
5.      Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak.

C.    Menara Pandang Sangiran

Di Kawasan Sangiran telah dibangun Menara Pandang dan Wisma Sangiran. Para wisatawan bisa menikmati keindahan dan keasrian panorama di sekitar kawasan Sangiran dari ketinggian lewat Menara Pandang Sangiran. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan akan tempat penginapan yang nyaman di kawasan Sangiran telah dibangun Wisma Sangiran (Guest House Sangiran) yang terletak di sebelah Menara Pandang Sangiran. Wisma Sangiran ini berbentuk joglo (rumah adat Jawa Tengah) dengan ornamen-ornamen khas Jawa yang dilengkapi dengan pendopo sebagai lobby. Keberadaan Wisma Sangiran ini sangat menunjang kegiatan yang dilakukan oleh para tamu atau wisatawan khususnya bagi mereka yang melakukan penelitian (research) tentang keberadaan fosil di Kawasan Sangiran. Wisma Sangiran memiliki fasilitas-fasiliras yang memadai, antara lain: Deluxe Room, sebanyak dua kamar dilengkapi dengan double bed, bath tub dan shower, washtafel, meja rias dan rak; Standard Room, sebanyak tiga kamar dilengkapi dengan double bed, bak mandi, washtafel, dan meja rias; Ruang Keluarga yang dilengkapi dengan meja dan kursi makan serta kitchen set; Pendopo (Lobby) yang dilengkapi dengan meja dan kursi; serta tempat parkir. Selain fasilitas-fasilitas tersebut, juga disediakan mobil (mini train) untuk memudahkan mobilitas para wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Sangiran.

D.    Museum Sebagai Mitra Pendidik
Berdasarkan hasil rumusan Komisi Internasional untuk Pendidikan Abad ke-21 UNESCO, yang dikenal sebagai Empat Tiang Pendidikan Abad ke-21 (The Four Pillars of Education in the 21st Century) menjadi inspirasi penataan Museum sebagai mitra pendidik. Keempat pilar pendidikan itu adalah belajar untuk tahu (learn to know), belajar untuk melakukan (learn to do), belajar untuk menjadi (learn to be), dan belajar untuk hidup bersama (learn to live together).

1.      Belajar Untuk Tahu
Dalam pembelajaran kognitif tujuan utama adalah belajar mendapatkan pengetahuan (knowledge) sebaik-baiknya. Yang terpenting dalam proses ini adalah alih pengetahuan sehingga orang yang sedang belajar dapat memperoleh pengetahuan baru lebih banyak. Dalam proses pembelajaran yang kognitif diperlukan museum yang imformatif. Museum yang imformatif adalah museum yang pameran atau tampilan yang disajikan haruslah mengandung informasi yang memadai dan disajikan dengan cara yang komunikatif sehingga pengunjung yang awam sekalipun akan mudah memahami dan mencerna informasi pengetahuan yang disampaikan. Kebanyakan museum di Indonesia lebih memamerkan benda-benda koleksinya daripada informasi. Padahal museum tidak lagi dilihat sebagai tempat perlindungan dan pelestarian benda-benda, tetapi lebih dilihat dari fungsinya untuk melayani pengunjung yang ingin mengetahui tentang benda-benda tersebut. Maka dari itu supaya pengunjung dapat memperoleh pengetahuan atau informasi, museum dapat memamerkan benda-benda koleksinya secara kontekstual. Benda yang dipamerkan ditampilkan dalam konteks yang lebih luas dan tidak terbatas hanya pada informasi tentang benda itu sendiri. Kecenderungan dalam tata pameran museum-museum di Indonesia adalah penyajian informasi yang terkotak-kotak. Dengan demikian, informasi seakan-akan terpilah-pilah sehingga membatasi keluwesan menyampaikan informasi secara kontekstual, menyeluruh dan terpadu. Selain itu, pada umumnya museum hanya terpaku unyuk menyajikan informasi yang terbatas pada tema utama museum itu sendiri. Misalnya museum sejarah perjuangan hanya menyajikan informasi mengenai peristiwa-peristiwa perjuangan. Museum arkeologi hanya menampilkan benda-benda dan informasi arkeologi saja. Meskipun setiap museum mempunyai tema tertentu yang menjadi cirinya, tetapi tema itu tidak semestinya membatasi keragaman informasi pengetahuan yang dapat disajikan. Tema museum menjadi arahan utama, sedangkan informasi lain sebagai pendukung dan pelengkanp. Penyajian informasi yang lebih luas dapat menjadikan museum sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan tentang dunia manusia dan kebudayaannya serta Museum dapat menjadi sarana kegiatan belajar mengajar dalam bidang sains.
Pengunjung museum biasanya tidak memiliki waktu yang panjang untuk menikmati tampilan dalam museum. Karena itu, penyajian informasi yang ringkas dan padat menjadi tuntutan dalam tata pameran museum. Penyajian informasi yang lebih banyak visualisasinya akan lebih menarik dan berkesan daripada penjelasan dengan tulisan-tulisan saja. Penyajian informasi secara visual biasanya dapat menyampaikan pengatahuan lebih baik, lebih banyak, lebih komprehensif, dan mudah terekam dalam benak manusia.

2.      Belajar Untuk Melakukan
Museum akan menjadi tempat belajar melakukan sesuatu jika menyajikan tampilan interaktif. Pengunjung tidak saja hanya dapat melihat, membaca atau pun menikmati sajian, tatapi dapat ikut serta aktif mencari dan mendapatkan informasi. Proses pembelajaran untuk tahu bagaimana harus berbuat akan semakin terbentuk, apabila tempilan tentang mata uang kuno, dapat disajikan cetakan logam dan logam yang dapat dipakai pengunjung untuk membuat sendiri tiruan mata uangnya. Contoh lain, dalam penelitian arkeologis dapat disediakan fasilitas untuk simulasi ekskavasi. Selain itu kecanggihan teknologi informasi dan komputer saat ini dapat membantu tampilan interaktif. Dengan cara interaktif ini, pengunjung dapat menikmati asyiknya ‘mencari’ informasi dan mendapatkan pengalaman langsung untuk melakukan sesuatu, sehingga mereka tahu bagaimana harus berbuat.

3.      Belajar Untuk Menjadi
Salah satu tujuan penting pendidikan adalah menjadikan orang sadar akan dirinya sekaligus membantu seseorang untuk mewujudkan kehendaknya atau cita-citanya untuk menjadi pribadi tertentu. Tujuan pendidikan ini lebih mengarah pada pembentukan kepribadian. Sebagai mitra pendidik, museum harus mampu berperan untuk membentuk kepribadian seseorang. Ada banyak potensi yang ada di museum untuk melaksanakan tugas ini. Misalnya, Museum Karmawibhangga di Borobudur, dirancang tidak hanya untuk memamerkan benda-benda arkeologi yang berupa relief-relief namun juga menyajikan makna yang berupa ajaran moral yang terkandung dalam relief Borobudur yang masih tetap relevan di masa kini bagi semua pengunjung. Museum kereta api, tidak hanya menyajikan perkembangan bentuk kereta api, tetapi juga menyampaikan dampak bahan bakar yang digunakan terhadap manusia dan lingkungannya. Museum dirgantara tidak hanya sekedar menampilkan berbagai jenis pesawat, tetapi juga motivasi dan sejarah hubungan manusia dengan dirgantara untuk dapat menciptakan berbagai jenis ‘mesin terbang’. Pesan seperti ini diharapkan akan mampu menggugah kesadaran pengunjung bahwa hanya usaha keras dan panjang akan membawa keberhasilan yang sebenarnya, bukannya dengan cara-cara jalan pintas. Aspek lain dari dari ranah pendidikan kepribadian adalah pembentukan jati diri. Museum seharusnya dapat menyajikan pesan-pesan begaimana masa lalu telah ikut menentukan keadaan masa kini serta bagaimana lingkungan sosial kita menyebabkan setidaknya tiga kesadaran jati diri, yaitu : tentang keadaan lingkungan alam Indonesia tempat kita hidup, keadaan dan kemampuan bangsa yang menjadi bagian sosialnya, menumbuhkan minat untuk mengembangkan potensi diri. Butir yang terakhir ini merupakan bagian penting dalam proses belajar untuk menjadi apa (learn to be). Artinya, melalui tampilan informasi di museum, pengunjung terinspirasi atau mendapat gambaran cita-citanya untuk menjadi seseorang dengan jati diri tertentu. Namun, kebanyakan museum di Indonesia jarang menyampaikan pesan-pesan pelestarian. Padahal salah satu tugas museum adalah sebagai tempat untuk melestarikan pesan-pesan pelestarian. Karena itulah, ketika pengunjung meninggalkan museum seringkali mereka tidak mengalami perubahan sama sekali. Kenyataan ini membuktikan bahwa museum tersebut tidak berhasil menjalankan fungsinya sebagai mitra pendidik untuk melakukan kegiatan membentuk kepribadian atau learn to be.

4.      Belajar Untuk Hidup Bersama
Manusia tidak bisa hidup terlepas dari manusia yang lain, walaupun mereka tidak pernah saling mengenal dan hidup pada ruang yang sangat berjauhan. Kesadaran itulah yang menjiwai UNESCO untuk menetapkan salah satu pilar utama pendidikan adalah ‘belajar untuk hidup bersama’ (learn to live together). Berbagai persoalan yang muncul dewasa ini salah satunya adalah bagaimana menghindari bias yang berlebihan antara berbagai pihak yang mempunyai sudut pandang yang berbeda. Misalnya, peran museum dalam membangkitkan semangat nasionalisme yang agak berlebihan di Negara yang baru merdeka dengan menjelek-jelekkan negara bekas penjajahnya. Kecenderungan semacam ini hendaknya dapat diubah dengan mendorong penyajian informasi yang lebih seimbang. Menurut David Pearce, Museum yang umumnya menyajikan berbagai benda dari masa lampau dapat menjadi “jendela” ke masa lampau atau ke negeri lain. Melalui museum, orang dapat berinteraksi dengan budaya dan komunitas yang dipresentasikan di dalam museum. Museum yang mendidik untuk belajar hidup bersama harus berusaha merancang materi pamerannya agar peristiwa, budaya, keadaan dan hasil pencapaian di masa lalu dapat menjadi pembelajaran bersama. Pesan sentral dibanyak Museum sekarang adalah belajar dari masa lampau untuk merajut hubungan yang lebih baik dimasa depan.

E.     Koleksi Museum Sebagai Sumber Pendidikan Hubungan Antarbangsa
1.      Koleksi Museum sebagai Data Penelitian
Sebagai lembaga pelestarian benda-benda budaya, museum tidak saja berfungsi sebagai pusat informasi, namun sekaligus sebagai media pendidikan yang memberikan layanan edukatif-kultural bagi masyarakat luas. Salah satu aktifitas yang menunjang ranah pendidikan adalah penelitian. Peran museum dalam aktifitas penelitian memang untuk tujuan pendidikan bangsa. Koleksi yang ada dapat menjadi sumber data penelitian walaupun memerlukan penafsiran.
Riset-riset yang dapat dilakukan terhadap museum adalah :
1.      Riset yang didasarkan pada berbagai koleksi artefak dan analisisnya melalui kompilasi berbagai sumber yang sudah dipublikasi.
2.      Riset yang bersifat terapan misalnya survey pengunjung, penggunaan kuisioner untuk mengukur kegiatan pameran sebagai media edukasi.
3.      Riset tingkat dasar yakni riset yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan tentang sebuah daerah atau situs.

2.      Sumber data koleksi
Beberapa koleksi museum yang dijadikan sebagai sumber data dalam tulisan ini antara lain nekara, figurin terakota, keramik asing, pipa rokok, mata uang, dan heraldik. Contoh : nekara perunggu dari Pulau Sangeang, yang terdiri dari tiga bagian yaitu bagian pukul, bahu dan badan. Penggambaran figurin orang cina dikenali dengan beberapa ciri antara lain bermata sipit, rambutnya lurus disisir ke belakang. Hubungan dengan bangsa asing juga dapat diketahui dengan temuan keramik yang menggambarkan kebiasaan orang tempat asal keramik tersebut. Contoh lain adalah pengaruh orang Eropa di masa Kesultanan Banten yang dapat dikenali dengan adanya temuan berupa pipa Gouda yang diperkirakan berasal dari Belanda.

3.      Penafsiran
Hubungan antar bangsa sudah menjadi kajian studi hubungan internasional sejak berakhirnya Perang Dunia II. Definisi dari Ilmu Hubungan Internasional adalah arti sempit adalah “Ilmu Hubungan Internasional sebagai subyek akademis terutama memperhatikan hubungan politik antarbangsa”. Sementara Ilmu Hubungan Internasional dalam arti luas tidak hanya mencakup unsur politik saja tetapi juga unsur ekonomi, sosial, kultural dan sebagainya. Misal, temuan nekara dari Jawa, Selayar dan Roti merupakan beberapa bukti adanya hubungan antarbangsa dimasa lampau. Menurut pendapat AB Meyer dan W. Fox, nekara-nekara perunggu itu dibuat di Khmer dan kemudian disebarluaskan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Sementara Heekeren menganggap sebagai salah satu komoditi yang diimpor dari Cina.
Selain dari nekara, hubungan antarbangsa masa lalu dapat dilihat pula pada data prasasti. Misalnya, hubungan antarbangsa pada masa Jawa Kuno dapat ditelusuri bagaimana hubungan itu berlangsung melalui data yang ada pada prasasti, seperti prasasti Kaladi (909 M) dan Palebuhan (927 M) yang menyebutkan beberapa kelompok pedagang asing. Hubungan dengan bangsa asing juga dapat ditelusuri melalui sejumlah catatan Cina. Contoh bukti bentuk hubungan antarbangsa diantaranya adalah dalam hal keagamaan seperti adanya pengaruh Hindu-Budha, Islam dan Kristen. Selain itu juga adanya jalur perhubungan sebagai sarana penunjang perdagangan.

4.      Membangun Sikap Terbuka Bangsa Asing
Hubungan antarbangsa pada masa lampau kiranya dapat terwujud berkat faktor keterbukaan para penguasa di Indonesia terhadap kedatangan bangsa asing. Hubungan antarbangsa di era globalosasi saat ini mempunyai pengaruh terhadap kondisi sosial budaya Indonesia. Kelanjutan hubungan antarbangsa perlu dibina untuk mengatasi dampak negatif yang timbul akibat globalisasi. Ikhtiar-ikhtiar memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam menghadapi lingkungan lingkungan internasional yang lebih kabur, lebih kompetitif dan lebih tidak menentu kiranya dapat dipelajari dari kearifan masa lampau, yang salah satunya tercermin pada koleksi museum.









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Museum merupakan suatu tempat yang ideal sebagai wadah kegiatan pendidikan sekaligus hiburan. Dengan demikian museum diharapkan mampu menyajikan pengetahuan dan keterampilan dalam suasana yang menyenangkan. Peran museum sebagai mitra pendidik dapat merujuk pada Empat Tiang Pendidikan Abad ke-21 yang merupakan hasil rumusan Komisi Internasional untuk tahu (learn to know), belajar untuk melakukan (learn to do), belajar untuk menjadi (learn to be) dan belajar untuk hidup bersama (learn to live together).
Untuk menjadikan museum sebagai mitra pendidik dengan keempat pilar tersebut memang bukan hal yang mudah. Namun, paling tidak museum-museum di Indonesia hendaknya mulai sadar bahwa mereka mempunyai potensi yang cukup besar untuk diarahkan menjadi wahana pembelajaran yang mendukung empat pilar pendidikan tersebut. Dengan demikian, dunia permuseum di Indonesia akan mampu memberikan sumbangan bagi pembangunan bangsa dan Negara di era global saat ini.
Sebagai lembaga pelestarian benda-benda budaya, koleksi museum dapat dijadikan sebagai sumber pendidikan. Salah satunya adalah sumber pendidikan hubungan antarbangsa khususnya kita dapat mengetahui hubungan antarbangsa pada masa lampau melalui koleksi-koleksi museum. Koleksi museum dapat diketahui bagaimana hubungan antarbangsa pada masa lampau berlangsung.
Bentuk hubungan antarbangsa pada masa lampau tersebut hendaknya bisa menjadi inspirasi hubungan antarbangsa di masa sekarang ini untuk dapat menjalin hubungan baik. Seperti pesan yang menyatakan bahwa “belajar dari masa lampau untuk merajut hubungan yang lebih baik di masa depan”. Salah satu media pembelajarannya dapat diperoleh dengan mengamati dan menelaah koleksi museum.

B.     Penutup
Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji syukur kami haturkan kehadirat Alloh SWT yang selalu memberikan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis ini. Kami tak lupa haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak terutama Bapak Drs. Akhid Widi Rahmanto yang dengan penuh kesabaran telah membimbing kami dalam menyusun karya tulis ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa hasil penyusunan karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun demi untuk kesempurnaan penulisan-penulisan kami yang lain.
Namun kami merasa puas dapat menyelesaikan tugas yang diamanatkan kepada kami dengan penuh kesadaran dan kerjasama yang baik. Semoga kerjasama yang baik ini senantiasa akan kita tingkatkan untuk waktu-waktu mendatang.
Akhirnya kepada semua pembaca yang telah mempunyai perhatian terhadap karya tulis ini, kami mengucapkan banyak terima kasih. Selanjutnya, atas segala kesalahan dan kekurangan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kami dan para pembaca. Amin.

0 komentar:

 
Do you can do it?? © 2012