Makalah : Fosil-Fosil di Museum Sangiran Sragen

Saturday, March 16, 2013



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Fosil adalah benda-benda yang pernah ada di dunia ini dan lama terkubur di dalam tanah sehingga saat ini ketika ditemukan sudah berubah menjadi batu atau sekeras batu. Khususnya di Indonesia fosil banyak ditemukan di daerah Sangiran yaitu di daerah yang terletak di sebelah utara kota Solo daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun benda-benda temuan tersebut semuanya kini disimpan dan dikoleksi di Museum Sangiran guna penelitian-penelitian para ahli baik dari dalam negrei sendiri maupun peneliti dari Manca negara.
Untuk itulah kami serombongan mengadakan studi banding di Sangiran pada hari Selasa tanggal 5 Mei 2009, guna melihat secara langsung fosil-fosil apa saja yang dikoleksi di Museum tersebut. Penekanan kelompok kami adalah pada fosil-fosil hewan, apa saja yang dikoleksi di Museum Sangiran.

B.   Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami ungkapkan di sini adalah sebagai berikut :
1.      Pengertian fosil menurut pelajaran sejarah itu apa.
2.      Fosil hewan menurut pelajaran sejarah ada berapa.
3.      Ada berapa jenis fosil hewan yang dikoleksi Museum Sangiran.
4.      Sejak kapan fosil hewan dikoleksi oleh Museum Sangiran.
5.      Berasal dari mana saja fosil hewan yang dikoleksi Museum Sangiran.
6.      Apa saja manfaat fosil-fosil hewan dikoleksi di Museum Sangiran.

C.   Alasan Pemilihan Judul
Dalam menyusun karya tulis ini kelompok kami mengambil judul “JENIS-JENIS FOSIL HEWAN DI SANGIRAN” dengan alasan sebagai berikut :
1.      Banyak hewan yang hidup beberapa tahun sebelum kita ada, seperti apa sajakah hewan tersebut?
2.      Ada berapa macam jenis hewan yang hidup sebelum kita ada yang dapat dibuktikan dengan penemuan fosilnya?
3.      Fosil-fosil yang dikoleksi merupakan bukti nyata bahwa mereka pernah ada.
4.      Kami sekelompok ingin mengetahui jenis-jenis hewan yang hidup beberapa ribu tahun sebelum ini dengan mempelajari fosil-fosilnya yang dikoleksi oleh museum di Sangiran.
Berdasarkan empat hal tersebut di atas maka kelompok kami mulai menyusun laporan hasil observasi maupun wawancara dengan bagian informasi.

BAB II
LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN

A.   Persiapan Sebelum Penelitian
Sebelum penelitian berlangsung terlebih dahulu pembimbing memberi arahan tentang segala sesuatu yang perlu dipersiapkan diantaranya sebagai berikut :
1.      Memilih tema yang akan ditulis.
2.      Mempelajari masalah yang sesuai dengan tema yang akan dipilih.
3.      Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan baik kepada pemandu maupun objek bahasan yang sesuai tema.
4.      Mempersiapkan alat tulis dan alat-alat dokumentasi baik berupa kamera maupun alat perekam suara.

B.   Saat Kunjungan / Penelitian
Sesuai dengan agenda yang telah dibuat oleh panitia penyelenggara out door study bahwa pelaksanaan out door study dilaksanakan hari Selasa tanggal 5 Mei 2009. Berangkat dari MAN Wonokromo tepat pukul 07.30 WIB dan sampai di lokasi pukul 09.30 WIB.
1.      Sesampai di Sangiran rombongan dibawa ke gedung Teater Sangiran terlebih dahulu untuk menyaksikan pemutaran film tentang penemuan fosil-fosil disana.
2.      Sesudahnya rombongan dibawa masuk ke Museum Sangiran untuk melihat-lihat koleksi fosil-fosil yang tersimpan rapi di rak-rak maupun almari-almari.
3.      Acara yang ketiga siswa-siswi diberi kebebasan untuk wawancara maupun mengambil gambar di sekitar lingkungan Sangiran.
4.      Acara yang keempat siswa-siswi boleh melakukan wawancara tambahan yang dianggap kurang untuk melengkapi data yang kami perlukan.
Dan kunjungan di Museum Sangiran berakhir jam 13.00 WIB setelah sebelumnya kami melakukan sholat dhuhur berjamaah dan makan siang.

C.   Sesudah Penelitian
Pada hari Kamis tanggal 7 Mei 2009 kami sepakat mengadakan pertemuan dengan seluruh anggota kelompok dan didampingi pembimbing, bertempat di perpustakaan MAN Wonokromo kami mencoba menerangkan ke dalam bentuk tulisan dari apa yang telah kami dapatkan pada saat penelitian. Tepat jam 12.00 kami akhiri dan hasilnya lebih lanjut akan diteliti dan dikoreksi oleh pembimbing kami.

D.   Metode Penelitian
Untuk memperoleh data-data yang kami perlukan ada beberapa cara yang kami tempuh, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Melihat dan mendengarkan dari pemutaran film tentang penemuan-penemuan di sekitar Sangiran.
2.      Melihat dan membaca dari foto-foto di Museum Sangiran.
3.      Mendengarkan penjelasan dari petugas Museum Sangiran.
4.      Tanya-jawab (wawancara) dengan pemandu wisata di Museum Sangiran.
5.      Observasi dan pengamatan langsung di lokasi Museum Sangiran.
6.      Membaca dari internet.

BAB III
PEMBAHASAN

A.   Sejarah Berdirinya Museum Sangiran
Bermula dari penelitian Van Koeningswald pada tahun 1930an dibantu Toto Marsono Kepala Desa Krikilan pada saat itu. Toto Marsono mencari balung buto (tulang raksasa) yang merupakan fosil sisa-sisa jasat hidup manusia dan hewan purba yang terawetkan dalam lapisan bumi.
Setelah Van Koeningswald tidak aktif lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan tersebut diteruskan oleh Toto Marsono. Untuk menampung hasil temuannya berupa fosil yang semakin hari semakin bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun museum kecil di desa Krikilan Kecamatan Sragen di atas tanah seluas 1.000 m2, museum tersebut diberi nama Museum Plestosen.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum beru yang lebih besar di desa ngampon Kelurahan Krikilan Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen. Didirikan di atas tanah seluas 16.675 m2. Selain berfungsi untuk memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan serta pelestarian kawasan Sangiran.
Pada tahun 1977 Museum Sangiran ditetapkan sebagai daerah cagar budaya melalui SK menteri P dan K No. 0701 0119 77 tertanggal 15 Maret 1977, dan pada tanggal 25 Juni 1995 situs Sangiran dinominasikan ke UNESCO. Tanggal 5 Desember 1996 situs Sangiran resmi diterima UNESCO sebagai warisan budaya dunia dan dicatat dalam world heritage list no. 593 dengan nama “Sangiran early man sit” (dokumen WHL 96 / Con / 2201 / 21) disebarluaskan UNESCO melalui UNESCO pers No. 96-215.

B.   Macam-macam jenis fosil hewan di Sangiran
Koleksi yang ada di museum Sangiran secara keseluruhan mencapai 13.808 koleksi akan selalu bertambah karena di setiap musim hujan kawasan Sangiran selalu mengalami erosi yang sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah.
Koleksi yang ada di Museum Sangiran antara lain : fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, fosil batu-batuan sendimen tanah, fosil peralatan yang terbuat dari batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan manusia purba yang tinggal di Sangiran. Namun lebih rinci yang akan kami teliti hanya fosil hewan. Adapun jenis-jenis fosil hewan yang dikoleksi di Museum Sangiran adalah sebagai berikut :
1.     Fosil Mulusca
Molusca termasuk filum invertrebrata, terbagi menjadi 7 klas dan lebih dari 10.000 species disimpan di museum Sangiran.
Pada garis besarnya mulusca terbagi menjadi dua yaitu :
a.       Klas pelecipoda (kerang dengan cangkang)
Dan ini terdiri dari beberapa jenis diantaranya :
-          Venericardie
-          Area
-          Pecten
-          Terlina
-          Ostrea
-          Skeinkern
-          Fragmen tridacna
-          Vermentus
b.      Klas gastropoda (kerang bercangkang spiral)
Terdiri dari beberapa jenis diantaranya :
-          Orthaulex
-          Olivia
-          Turbo
-          Eupleura
-          Strombus
-          Turritella
-          Conus
-          Urosalpinx
-          Buecina
-          Stinkera
Jenis hewan ini banyak ditemukan pada formasi kali bening dan pucangan.
2.     Fosil Fish And Crab
Ikan dan kepiting ditemukan di Kawasan Cagar budaya Sangiran dan itu menunjukkan bahwa daerah tersebut adalah merupakan lautan kemudian berubah menjadi danau, rawa-rawa dan akhirnya berubah menjadi daratan.
Beberapa fragmen tulang ikan dan kepiting serta tanggal penemuan yang dikoleksi museum Sangiran adalah sebagai berikut :
a.       Sirip ikan bagian depan
Ditemukan pada tanggal 4 Januari 1991 oleh Bapak Purnomo di Dayu, Gondangrejo, Karanganyar, dalam Formasi Pucangan.
b.      Kepiting
Ditemukan pada tanggal 6 April 1976 di Bukuran, Kalijambe, Sragen oleh Bapak Mitro dalam Formasi Pucangan.
c.       Rahang, sirip, dan ruas tulang belakang ikan
Ditemukan oleh Bapak Suwarno pada tanggal 20 November 1975 di Bungkuran, Sragen, dalam Formasi Pucangan.
d.      Gigi ikan hiu
Ditemukan oleh Bapak Sutarjo pada tanggal 6 April 1977 di Desa Bukuran dalam Formasi Pucangan.

3.     Kudanil (Hippopotamus)
Kudanil adalah binatang darat yang hidup di rawa-rawa / danau dan dapat menyelam dalam air selama 5 menit dengan cara menutup lubang hidung dan matanya, binatang ini ditemukan pada formasi pucangan dan kabuh.
Beberapa bagian dari kudanil yang ditemukan adalah sebagai berikut :
a.       Rahang bawah (manybula)
Ditemukan oleh Sudikromo pada tanggal 20 Februari 1994 di tebing sebelah barat Grogolan, Bukuran, Kalijambe, Sragen.
b.      Rahang atas (maxilla)
Ditemukan oleh Mujimin pada tanggal 25 April 1994 di Pablengan, Krikilan, Kalijambe, Sragen.
c.       Tulang iga (tibia)
Ditemukan oleh Warsito pada tanggal 4 Januari 1993 di Bubak Ngebung, Kalijambe, Sragen.
d.      Tulang kaki depan bagian atas (humerus)
Ditemukan oleh Warsito pada tanggal 28 Desember 1993 di Krikilan, Kalijambe, Sragen.

4.     Tengkorak Kerbau
(bubalus palaeokerakabau) ditemukan pada tanggal 20 November 1992 oleh Tardi di Dukuh Tanjung, Dayu, Gondangrejo, Karanganyar.

5.     Gajah Purba
Gajah purba yang pernah hidup di Cagar Budaya Sangiran antara lain :
a.       Mastodon sp.
Ditemukan oleh Marjono pada tanggal 5 Januari 1992 pada Formasi Kabuh.
b.      Tulang rusuk (costa) gajah stegodon
Ditemukan oleh supardi pada tanggal 3 Desember 1991 pada Formasi Pucangan atas.
Beberapa fosil bagian dari tubuh gajah yang dikoleksi di Museum Sangiran antara lain :
-          Rahang atas
-          Gading
-          Tulang panggul
-          Ruas tulang jari
-          Ruas tulang belakang
-          Ruas tulang leher
-          Gigi geraham bawah

6.     Fosil Bovidae
Bovidae adalah kelompok hewan bertanduk seperti kerbau dan banteng yang ditemukan pada formasi pucangan dan kabuh. Beberapa bagian fosil kerbau dan banteng yang dikoleksi di museum Sangiran adalah :
a.       Tulang belakang (vertebratae)
Ditemukan oleh Sutanto pada tanggal 26 Mei 1977.
b.      Rahang bawah (mandibula)
Ditemukan oleh Paino pada tanggal 10 Desember 1994.
c.       Tulang rusuk (costa)
Ditemukan oleh Sutanto pada tanggal 17 Mei 1977.
d.      Tulang paha (femur)
Ditemukan oleh Warsito pada tanggal 1 Februari 1994.
e.       Tulang kering (tibia)
Ditemukan oleh Jumadi pada tanggal 10 Mei 1977.
f.       Tulang tapak kaki (metacarpal)
Ditemukan oleh Mul Tukiman pada tanggal 3 November 1994.
g.      Tulang kaki depan atas (humerus)
Ditemukan oleh Mul Tukiman pada tanggal 28 Januari 1995.
h.      Tengkorak (cranium)
Ditemukan pada tahun 1975.

7.     Fosil Rusa
Beberapa fosil rusa yang dikoleksi oleh Museum Sangiran adalah sebagai berikut :
a.       Tanduk rusa jenis cervus hippelaphus dan jenis cervus cydektery
b.      Tengkorak rusa (cranium)
c.       Rahang bawah (mandibula)
d.      Rahang atas
e.       Tulang pinggul
f.       Bobois sateng
g.      Tulang paha (femur)
h.      Tulang telapak kaki belakang bawah
i.        Tulang pengumpil
j.        Ruas tulang jari
k.      Ruas pergelangan kaki belakang domba

8.     Fosil Babi
Beberapa bagian dari fosil babi ini dikoleksi oleh Museum Sangiran, antara lain :
a.       Rahang atas babi
Ditemukan oleh Mitro pada tanggal 14 maret 1977 di Krikilan, Kalijambe Sragen.
b.      Rahang bawah babi
Ditemukan pada tahun 1976 pada Formasi Kabuh.




9.     Fosil Harimau
Beberapa bukti adanya kehidupan harimau adalah dengan ditemukannya fosil-fosil harimau antara lain :
a.       Tengkorak harimau
Ditemukan oleh Ngadino di Wonolelo Kalijambe Sragen pada 24 Desember 1993.
b.      Tulang paha harimau
Ditemukan di Wonolelo Brangkal, Gemocong Sragen pada 12 Juni 1993.
c.       Taring harimau
Ditemukan oleh Ngadino pada tanggal 25 April 1991 di Wonolelo, Ngebung, Kalijambe Sragen.

10.                        Fosil Kura-Kura
Fosil kura-kura ditemukan oleh Sanyoto pada tanggal 8 Desember 1994 di Pucangan, Ceklik, Bukuran, Kalijambe Sragen.

11.                        Fosil Buaya
Bukti adanya buaya pada kehidupan zaman purba adalah ditemukan fosil rahang atas dan gigi buaya oleh Warsito pada tanggal 4 Januari 1993 di Pucangan, Krikilan Kalijambe Sragen.



BAB IV
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT

A.   Faktor Pendukung
Beberapa faktor pendukung dalam penulisan karya ilmiah ini antara lain :
1.      Kekompakkan semua anggota kelompok dirasa amat mendukung dalam menyusun karya ilmiah ini, tanpa kekompakan itu tidak mungkin karya ilmiah ini dapat terwujud.
2.      Mudahnya menemui pembimbing sumber informasi di lapangan dan dengan gamblang memberikan informasi tentang data-data yang kami butuhkan.
3.      Ketelatenan pembimbing dalam mengoreksi dan pemberi arahan dalam penulisan karya ilmuah ini dirasa sangat mendukung karena pada awalnya kami merasa tidak nyaman karena ketelitiannya namun sekian dengan sabar menuntun dan membetulkan kesalahan-kesalahan kami sehingga menjadi karya ilmiah yang siap disajikan dan dibaca.

B.   Faktor-faktor penghambat
Beberapa faktor penghambat yang kami rasakan dalam penulisan karya ilmiah iniadalah sebagai berikut :
1.      Penulisan sangat dibatasi oleh waktu yang bersamaan dengan waktu-waktu menjelang ulangan umum kenaikan kelas sehingga memecah perhatian, mana yang mesti kami dahulukan.
2.      Langkanya brosur-brosur maupun pamlet tentang museum dan koleksi-koleksi di Museum Sangiran dan tidak diterbitkannya buku-buku panduan.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.   Kesimpulan
Pada penulisan karya ilmiah ini penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, antara lain :
1.      Museum Sangiran berdiri untuk pertama kali tahun 1974 yang diprakarsai oleh Gubernur Jawa Tengah di atas tanah seluas 1000 m2, sedang SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1977 no. 070/0/1977 tertanggal 15 Maret 1977.
Sedangkan dunia baru mengakui pada tanggal 5 Desember 1996.
2.      Jenis-jenis fosil hewan yang dikoleksi di Museum Sangiran ada II macam diantaranya
a.       Fosil mulusca (kerang)
b.      Fosil fish and crab (ikan dan kepiting)
c.       Fosilhippopatamus (kudanil)
d.      Fosil bubalus palaekerakabau (kerbau)
e.       Fosil elephas namadicus (gajah)
f.       Fosil bovidae (banteng)
g.      Fosil cervus (rusa)
h.      Fosil brachynathus (babi)
i.        Fosil cranium fellis palaejavanuca (harimau)
j.        Fosil kura-kura
k.      Fosil buaya

B.   Saran-saran
Tidak banyak yang akan kami sampaikan pada penulisan karya ilmiah ini:
1.      Melihat besarnya Museum Sangiran tentulah sangat memakan biaya yang amat besar, akan tetapi sepertinya kurang terawat sehingga kelihatan kumuh.
2.      Hendaknya diterbitkan brosur-brosur dan pamflet yang memudahkan peneliti mendapatkan data tentang Museum Sangiran dan isinya.
3.      Out door study dilaksanakan pada awal semester sehingga cukup waktu untuk penulisan laporannya.


C.   Penutup
Dengan mengucap syukur alhamdulullah kami telah dapat menyelesaikan karya ilmiah ini kami menyadari bahwa masih sangat jauh dari sempurna yang dapat kami lakukan hanyalah permohonan maaf.
Semoga kekurangan dan kesalahan yang tidak sengaja kami lakukan ini kelak dapat disempurnakan oleh penulis selanjutnya, dan kami berharap sekalipun sekecil debu karya ilmiah ini ada manfaatnya bagi siapa yang membacanya. Amin.
Demikian akhir kata kami sesudah dan sebelumnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.



Wonokromo,     Juni 2009


Penyusun







DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Rusmilia Tjiptadi. 2004. Museum situs Sangiran. Solo Koperasi Museum Sangiran
Waluyo, Budi. 2009. Buku Ajar ACTN Pengayaan Bahasa Indonesia. Solo. CV. Sindhunata
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi
               ketiga. Jakarta : Balai Pustaka
www.google.com. 8, 10 dan 11 April 2009 jam 08.00 - selesai.



0 komentar:

 
Do you can do it?? © 2012